28 °C
haze
18
Sun
Jakarta

TPH CORNER

07 Oct 2015
By admintph

Dessert Berasap, Trend yang Lahir Dari Gastronomi

Dessert Berasap, Trend yang Lahir Dari Gastronomi

Fren, di Indonesia sendiri hidangan molecular gastronomy memang belum begitu populer. Bahkan hanya beberapa restoran saja yang berani menyajikan hidangan hasil kolaborasi antara seni memasak dengan ilmu kimia-fisika tersebut. Bahkan orang yang ahli dalam teknik memasak ini masih terbilang barang langka.

Tapi jangan khawatir Fren, kalau kamu termasuk anak muda yang haus akan hal-hal baru dan ingin merasakan sensasi makanan yang dimasak dengan teknik molecular gastronomy, di Indonesia sudah ada kok. Dia adalah Ron’s Laboratory, restoran unik yang terletak di Grand Indonesia West Mall.

Jika dibandingkan dengan restoran lainnya, restoran milik Ronald Prasanto ini lebih fokus kepada penyajian dessert. Dalam menunya, Ron’s Laboratory menawarkan beberapa hidangan penutup, seperti ice cream, kopi, gelato dan sorbet, yang semuanya di masak dengan metode molecular gastronomy.

Salah satu menu favorit di sini adalah gelato avocado with espresso dan red velvet with cream cheese. Kedua menu ini disajikan dengan sangat ahli oleh sang peracik, dan hasilnya. Di dapatlah sebuah gelato yang tidak kalah rasanya dengan kebanyakan, tapi dalam versi tekstur yang lebih lembut.

Dalam keterangannya, Ronald menyatakan jika dirinya sengaja mengandalkan tekstur lembut, sehingga begitu masuk mulut, tidak ada rasa enek yang tertinggal. Tidak hanya gelato, di sini pun disajikan lemongrass sorbet, iced americano, tape ketan dan berbagai makanan lainnya yang menggugah selera.

Menurut Ronald, teknik memasak dengan molecular gastronomy merupakan hal baru dan menyenangkan bagi siapa saja yang melakukannya. Makanan yang disajikan pun akan penuh dengan asap, dan menimbulkan nuansa laboratorium yang sangat kental.

Mengizinkan Pelanggan Menjadi Ilmuwan

Tidak hanya bisa menikmati hidangan, pelanggan yang datang ke Ron’s Laboratory, bisa menikmati sensasi menjadi ilmuwan dengan cara bereksperimen dalam membuat hidangan dengan bahan yang dibawa sendiri dari luar restoran. Misalnya saja cheese cake, bebas.

Lebih lanjut lagi, Ronald menjelaskan, selama makanan yang diraciknya disantap dan tidak untuk dijual lagi, pelanggan bebas mencampurkan apa saja ke dalam hidangannya, tanpa dipungut biaya tambahan. Kalau kamu hanya ingin menjadi penikmat, jangan khawatir, di sini harganya bersahabat kok, mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 60.000.

Bagaimana Fren, tertarik untuk menjajal makanan yang diolah dengan teknik molecular gastronomy?

Write a Reply or Comment