27 °C
broken clouds
18
Sun
Jakarta

TPH CORNER

07 Oct 2015
By admintph

Agus Pulung Sasmito, Profesor Muda di Kanada

Agus Pulung Sasmito, Profesor Muda di Kanada

Fren, berapa usia kamu sekarang? Umumnya, orang baru bisa menyandang gelar profesor ketika usianya lebih dari 40 Tahun. Tapi berbeda dengan Agus Pulung Sasmito, pria ala Wonosobo ini sanggup menyandang gelar profesor di usia yang relatif masih muda, yakni 32 tahun. Bahkan kini Agus terdaftar dalam deretan profesor termuda di dunia.

Yang paling membanggakan, profesor muda asal Indonesia ini sekarang tengah menjalankan tugas sebagai pengajar, sekaligus peneliti di McGill University di Kanada. Untuk mendapatkan semua gelar tersebut, tentu bukan bukan perjalanan yang mudah. Agus harus rela mengorbankan banyak hal, termasuk tenaga dan waktu yang sangat panjang.

Jika melihat riwayatnya, perjalanan pendidikan Agus terbilang biasa-biasa saja, dia menjalani pendidikan sama seperti kebanyakan anak-anak desa di daerah pegunungan Wonosobo, di mana dia mengawali pendidikan di SDN Kalibeber 1. Setelah itu, Agus kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP N 1 Mojotengah, dan berlanjut ke SMAN 1 Wonosobo.

Pasca lulus SMA di tahun 2001, Agus kemudian mendapat undangan untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada melalui jalur tanpa tes penjaringan bibit unggul daerah (PBUD), sampai tahun 2005 dia meraih gelar sarjana teknik dengan skripsi tentang desain energi panas bumi.

Tidak cukup dengan gelar S1, Agus kemudian melanjutkan kuliah untuk mengejar gelar S2 ke Jurusan Teknik Mesin di National University of Singapore (NUS) lewat jalur beasiswa penuh dari ASEAN University Network atau South East Asia Engineering Education Development-Network (AUN/SEED-Net) dan NUS Research Scholarship.

Di tahun kedua masa perkuliahan, Agus mendapatkan tawaran untuk langsung loncat ke jenjang doktoral tanpa harus menyelesaikan magister. Akhirnya, thesis yang baru dia susun pun harus berubah menjadi proposal untuk mengejar gelar S3. Akhirnya, perjuangan pun dilanjutkan ke tahun 2010, di mana dia akhirnya bisa menyelesaikan disertasi tentang sel bahan bakar energi hidrogen.

Ketika menunggu ujian disertasi S3, Agus ikut menjadi salah satu peneliti di pusat teknologi mineral dan metal Singapura, sampai akhirnya, Maret 2011 dia sudah kantongi ijazah doktor. Tidak lama setelah itu, Agus pun memutuskan untuk pindah ke Abu Dhabi, sekaligus melanjutkan penelitian pos doktoral di Masdar Institute.

Sambil melanjutkan penelitian, Agus mengaku mulai mencari lowongan dosen dan mengirimkan lamaran ke tiga universitas sekaligus, yakni Aalto University (Finlandia), Khalifa University (Abu Dhabi) dan McGill University (Kanada). Cukup banyak seleksi yang harus dilewati, tapi semuanya bisa dia lalui dengan mudah, hingga akhirnya ketika universitas tersebut menerimanya.

Agus menyebutkan jika Khalifa University menawarkan gaji dan fasilitas yang mentereng, Aalto University menawarkan posisi sebagai profesor madya (associate prof), sedangkan McGill University menawarkan fasilitas riset kelas dunia. Setelah melalui pertimbangan yang cukup panjang, akhirnya Agus memutuskan mengambil tawaran sebagai Professor muda di McGill University.

Bagaimana Fren, sangat mengaumkan bukan? So, semoga saja perjalanan Agus ini bisa menjadi inspirasi untuk anak muda Indonesia agar mereka tidak mudah berputus asa, dan puas dengan hanya satu gelar saja.

Write a Reply or Comment