27 °C
haze
18
Sun
Jakarta

TPH CORNER

16 Nov 2015
By admintph

Bayar Dokter Pakai Sampah Ada di Malang

Bayar Dokter Pakai Sampah Ada di Malang

Kisah inspiratif kali ini datang dari dunia medis Indonesia. Seorang dokter muda sukses mencuri perhatian masyarakat hingga kerajaan Inggris. Namanya Gamal Albinsaid yang awal tahun lalu mendapatkan penghargaan dari Pangeran Charles.

Sejak itu, sosok Gamal menjadi perbincangan hangat sejumlah media. Kepedulian yang tinggi dan kepekaannya pada fenomena sosial di sekitar patut dicontoh. Gamal mendirikan sejumlah klinik kesehatan dan dibayar memakai sampah. Berikut cerita dibalik perjalanan Gamal meraih kesuksesannya saat ini.

Berawal dari Kisah Memilukan yang Diberitakan Media Massa

Ide berobat ke dokter dibayar sampah berawal dari kisah pemulung bernama Triyono dan putrinya Khaerunissa yang masih 3 tahun. Balita itu diketahui sakit diare tapi tak bisa berobat karena faktor ekonomi. Bapaknya hanya berpenghasilan Rp10 ribu per hari. Karena tak mendapatkan obat dan perawatan, balita malang tersebut meninggal dunia. Tragisnya ia menghembuskan nafas terakhir di atas gerobak untuk memulung.

Berita ini sempat jadi topik hangat dan memotivasi Gamal melakukan sesuatu. Dia pun akhirnya mendirikan klinik kesehatan bagi orang-orang tak mampu di 2010.

Berdirinya Klinik Asuransi Sampah (KAS) di Malang

Gamal memulai langkahnya bersama beberapa rekan sejawat. Ide pembayaran dengan sampah ini muncul dari fenomena sehari-hari. Setiap rumah tangga pasti menghasilkan sampah. Daripada dibuang begitu saja, lebih baik dimanfaatkan untuk biaya berobat. Kesuksesan klinik kesehatan ini berkat kerja sama yang dijalin dengan masyarakat dan pihak terkait.

Masyarakat kurang mampu cukup menyerahkan sampah senilai Rp10 ribu tiap bulan. Baik jenis sampah organik maupun an-organik. Dengan itu sudah bisa menikmati fasilitas kesehatan di klinik. Mulai dari konsultasi, pemeriksaan hingga mendapatkan obat. Saat ini sudah ada 5 klinik di malang yang menerapkan sistem KAS.

Selain kegiatan berobat, masyarakat miskin yang memiliki kartu KAS juga mendapatkan penyuluhan kesehatan. Menurut Gamal, banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan klinik. Misalnya permintaan masyarakat untuk membayar dana Rp10 ribu secara tunai tiap bulan tanpa sampah.

Tapi Gamal dan teman-temannya menolak perubahan sistem pembayaran. Alasannya ialah upaya meningkatkan kepedulian masyarakat sekitar pada lingkungan. “Konsep klinik ini bukan hanya untuk berobat tapi edukasi agar masyarakat selalu menjaga kebersihan lingkungan,” terangnya.

Ke depannya, Gamal bersama Indonesia Medika ingin klinik kesehatan dibayar sampah bisa berkembang lagi. Bukan hanya di Malang, tapi di sejumlah kawasan di Indonesia. Dengan demikian fasilitas kesehatan memadai bisa menyentuh rakyat kurang mampu. Jadi, tak ada alasan lagi untuk takut berobat karena biaya mahal.

Gamal pun memiliki rencana untuk membuat sistem berbayar sampah lebih luas. Misalnya, masyarakat bisa memperoleh pendidikan dengan membayar sampah. “Peningkatan taraf hidup itu bisa dilihat dari pendidikan. Ide ini ada saat berbincang bersama Pangeran Charles,” katanya.

Terakhir, Gamal ingin memotivasi muda-mudi Indonesia untuk menjadi pribadi tangguh. “Tidak ada yang instan untuk sukses. Klinik kesehatan dibayar sampah juga banyak hambatannya. Tapi itu justru memotivasi kami semakin tangguh dan berjuang maksimal,” Tegas Gamal.

Write a Reply or Comment