30 °C
few clouds
19
Mon
Jakarta

TPH CORNER

02 Sep 2015
By admintph

Hellen Keller; Bukti Nyata Kalau Ada Kemauan Pasti Semua Mungkin

Hellen Keller; Bukti Nyata Kalau Ada Kemauan Pasti Semua Mungkin

Fren, kamu bisa bayangkan bagaimana sulitnya hidup sebagai Helen Keller. Selain tuna netra, Helen pun harus menjadi wanita penyandang tuna rungu. Tapi walaupun begitu, keterbatasan fisiknya tidak lantas membuat Helen putus asa. Dengan kegigihan dan usaha yang keras, akhirnya dia sanggup menjadi penyandang tuna netra dan tuna rungu pertama yang sukses meraih gelar sarjana.

Bagaimana sih kisah hidupnya?

Helen Keller lahir pada 27 Juni 1880, di Alabama, Amerika Serikat. Ketika usianya 19 bulan, Helen di vonis menderita penyakit serius, hingga merenggut kemampuan pendengaran sekaligus penglihatannya. Dengan segala keterbatasannya, Helen hanya bisa berkomunikasi dengan keluarganya lewat tanda-tanda sederhana.

Karena masalah komunikasi inilah akhirnya Helen kecil sering bertingkah buruk, bahkan cenderung tidak memiliki etika. Akhirnya, di usia 6 tahun, Helen dibawa ke Baltimore untuk mendapatkan perawatan dari ahli yang berkompeten. Sampai akhirnya dia dipertemukan dengan Alexander Graham Bell, yang ketika itu dia sedang melakukan penelitian mendalam tentang ketulian dan bunyi-bunyian.

Untuk merawat masalah kebutaannya, Mr. Bell membawa Helen ke Perkins Institute, sebuah institut yang khusus mempelajari kesehatan mata. Di sinilah kemudian Helen bertemu dengan Anne Sullivan, yang akhirnya menjadi pelatih, sekaligus menjadi sahabat Helen sampai 49 tahun kemudian.

Di masa-masa awal, usaha Sullivan untuk melatih Helen sering kali menemui jalan buntu. Bahkan karena keterbatasan Helen, dia nyaris saja frustasi. Tapi beruntung, Sullivan memiliki kesabaran super tinggi, hingga akhirnya sedikit demi sedikit usahanya mulai membuahkan hasil. membuat perkembangan.

Untuk pertama kalinya, kata pertama yang dipelajari oleh Helen adalah Water. Ketika itu, Sullivan melatih Helen dengan cara mengalirkan air ke tangan kiri Keller, kemudian tangan kanan Sullivan membimbingnya untuk membuat simbol air. Dengan cara inilah Helen belajar kata demi kata dasar, hingga akhirnya dia pun mulai bisa berbicara dengan cukup baik.

Tidak hanya itu, kemampuan Helen pun terus berkembang pesat, terlebih ketika dirinya mulai belajar membaca Braille. Di sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, Helen termasuk anak yang cerdas. Alhasil dia pun mampu menyelesaikan pendidikannya lebih cepat ketimbang anak-anak lainnya.

Ketika masuk jenjang perkuliahan, Helen sangat beruntung karena dirinya bertemu dengan Henry Rogers, yang merupakan pengusaha minyak kaya raya. Melihat semangat dan kisah hidup Helen, Rogers akhirnya sepakat untuk membiayai kuliah Helen di Radcliffe College.

Walaupun proses kuliah Helen sangat sulit, tapi dengan semangat yang besar dan dukungan dari orang-orang terdekatnya, akhirnya di tahun 1904, Helen berhasil meraih gelar sarjana di bidang seni. Ketika kuliah, Helen pun mendalami kemampuan membaca gerak bibir serta mulai menajamkan indera sentuhnya.

Pasca kuliah, Helen kemudian dikenal sebagai pembicara sekaligus sebagai menulis buku. Di tahun 1903, Helen meluncurkan buku pertamanya tentang kisah perjuangannya melawan disabilitas. Buku dengan judul “The Story of My Life” tersebut menjadi fenomenal dan menyedot perhatian banyak orang sampai kini.

Helen Keller meninggal pada 1 Juni 1968 karena penyakit stroke. Selama hidupnya, banyak penghargaan yang dia raih, salah satunya adalah, gelar The Predential medal of Freedom pada 1964 oleh presiden Amerika Serikat, Lyndon B. Johnson.

Write a Reply or Comment