32 °C
haze
18
Sun
Jakarta

TPH CORNER

18 Nov 2015
By admintph

Saur Marlina “Butet” Marunung, Guru Anak Primitif

Saur Marlina “Butet” Marunung, Guru Anak Primitif

Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah lebih dari tujuh belas ribu pulau, baik yang besar dan yang kecil. Dengan jumlah pulau sebanyak ini sampai sekarang pemerintah belum mampu untuk meratakan pembangunan sehingga masih banyak daerah-daerah yang tertinggal. Fren jangan heran apabila di daerah pedalaman Nusantara masih banyak masyarakat yang tinggal di hutan dengan pakaian seadanya dan tingkat pendidikan yang sangat rendah. Bahkan masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf. Melihat situasi yang masih jauh dari ideal ini, muncullah sosok yang bisa membawa perubahan dan menjadi contoh bahwa pendidikan itu sangat penting bahkan yang paling dasar sekalipun. Sosok tersebut bernama Saur Marlina Manurung atau yang lebih dikenal dengan nama Butet Manurung. Apa yang ia lakukan sehingga menerima penghargaan internasional dan bisa menulis buku yang inspiratif?

Mengajar masyarakat Suku Anak Dalam

Wanita yang lahir tahun 1972 di Jakarta ini datang ke Jambi tepatnya di Bukit Duabelas yang menjadi tempat pemukiman masyarakat primitif suku Anak Dalam pada tahun 1999.  Kedatangannya ke belantara hutan rimba ini memang untuk memberikan pendidikan dasar membaca, menulis, dan berhitung kepada masyarakat yang nggak tersentuh dengan pendidikan dan pembangunan. Tetapi peran mereka sangat penting lho Fren, untuk menjaga kelestarian hutan dan menjaga habitat mereka dari tangan-tangan usil manusia yang suka merusak.

Setiap harinya, Butet Marunung harus menelusuri jalanan pedalaman yang berupa tanah dan medan yang berat. Kini sudah lebih dari 10.000 masyarakat baik anak-anak maupun orang dewasa yang sudah mendapatkan pendidikan di sekolah rintisan atau sekolah rimba yang ia buat. Namun, jalan Butet Marunung nggak selamanya mulus lho, Fren. Bayangkan saja, ia harus menempuh perjalanan jauh dan sulit untuk masuk hutan dengan niat memberikan pendidikan tetapi ditolak oleh komunitas-komunitas yang ada di sana karena pendidikan masih dianggap tabu.

Mendapat ancaman bunuh diri

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi seorang Butet Marunung adalah ketika ia masih berusaha untuk menembus paham Suku Anak Dalam yang melarang anak-anaknya sekolah. Ketika itu ia sudah mendapatkan banyak penolakan dari komunitas-komunitas suku namun tetap tidak menyerah. Akhirnya, ia bertemu dengan seorang anak yang bernama Gentar dan memiliki keinginan kuat untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan Gentar juga membantu Butet Marunung untuk mendekati anak-anak lain untuk mau belajar.

Sayangnya, orang tua Gentar marah besar pada Butet Marunung dan mengancam akan bunuh diri jika pendidikan dilanjutkan. Di sisi lain, Gentar juga mengancam akan bunuh diri jika Butet Marunung menghentikan pendidikannya. Akhirnya petinggi suku menengahi dan mengijinkan sekolah tetap dilaksanakan asalkan nggak boleh keluar dari hutan dan nggak boleh pindah agama.

Beberapa penghargaan

Atas usaha dan perannya mengangkat pendidikan di suku pedalaman, Butet Marunung mendapatkan penghargaan internasional yaitu Ramon Magsaysay Award pada tahun 2014, Man And Biospher Award dari UNESCO  dan LIPI pada tahun 2001. Penghargaan yang diterima Butet Marunung adalah untuk mengapresiasi usahanya yang sudah membuat perubahan positif dalam suatu komunitas.

Write a Reply or Comment