26 °C
haze
12
Mon
Jakarta

TPH CORNER

24 Oct 2015
By admintph

Yayasan Nara Kreatif; Mendaur Ulang Kertas dan Menemukan Arti Hidup

Yayasan Nara Kreatif; Mendaur Ulang Kertas dan Menemukan Arti Hidup

Nezatullah Ramadhan merasa sangat gelisah ketika dirinya sendiri melihat bagaimana kehidupan anak-anak jalanan. Mereka hidup terlunta-lunta tanpa ada kejelasan bagaimana masa depannya nanti. Tidak hanya itu, mereka pun harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan jalanan, dan pergaulan yang cenderung memberikan pengaruh buruk kepada mereka.

Melihat kondisi ini, akhirnya mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta tersebut mengajak dua orang temannya untuk melakukan perubahan besar, terutama untuk membantu mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Dengan semangat inilah akhirnya pemuda kelahiran Padang, 8 April 1991 tersebut akhirnya memilih sampah untuk mereka ubah menjadi uang. Mengapa harus sampah?

Neza berpikir, untuk mendapatkan sampah, mereka tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Selain itu, keberadaan sampah sendiri kerap menjadi masalah besar Ibu Kota, terutama masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan. Di sinilah tantangannya dimulai!

Dengan bekal keterampilan mendaur ulang sampah kertas, akhirnya Neza mulai mengajak anak-anak jalanan mulai mengais rezeki dari seonggok sampah. Dengan menyewa rumah satu petak, Neza dan rekan-rekannya mulai membina anak-anak jalanan untuk menghasilkan sebuah karya yang bernilai ekonomi tinggi.

Awalnya, Neza sendiri tidak memiliki rencana untuk menjadikan kumpulan anak-anak jalanan ini sebagai sebuah badan usaha. Tapi karena banyak masukan yang diterimanya, Neza pun memutuskan untuk membuat sebuah yayasan yang bernama Nara Kreatif. Lewat yayasan inilah anak-anak binaan Neza lebih mudah mendapatkan banyak proyek dan bantuan yang lebih layak.

Dalam kesehariannya, anak-anak yang tergabung dalam binaan Nara Kreatif ini tinggal di yayasan. Bukan hanya mengolah kertas daur ulang saja yang kini mereka dapatkan, tetapi mereka pun kini bisa sekolah dengan gratis. Rutinitas anak binaan pun dimulai dengan sholat subuh berjamaah, kemudian dilanjut dengan mendaur ulang kertas menjadi sebuah produk jadi.

Sejak saat itu, bantuan pun terus datang silih berganti, termasuk bantuan dari BNI Syariah yang memberikan biaya kontrak rumah yang lebih representatif di Kampung Dukuh Kramat Jati, lengkap dengan beberapa fasilitas pendukungnya. Pihak BNI Syariah pun bersedia menyuplai kertas-kertas bekas mereka sebagai bahan baku kerajinan anak-anak binaan Neza.

Sebuah langkah cerdas untuk meretas langkah demi menyelamatkan anak-anak bangsa yang kurang beruntung karena terlalu lama hidup dalam kemiskinan, sekaligus cara elegan untuk menanggulangi masalah sampah Ibu Kota.

Write a Reply or Comment