31 °C
haze
18
Sun
Jakarta

TPH CORNER

17 Aug 2015
By admintph

Serunya Masangin Di Alun-Alun Kidul

Serunya Masangin Di Alun-Alun Kidul

Sebagai daerah istimewa yang memiliki kekayaan tradisi yang melimpah, Yogyakarta dikenal sebagai daerah unik yang sanggup menarik para wisatawan, baik mancanegara ataupun turis lokal. Salah satunya adalah tradisi Masangin yang dilakukan di Alun-alun selatan Yogyakarta atau Alun-Alun Kidul.

Masangin merupakan kegiatan berjalan melewati antara dua pohon beringin yang berada di tengah alun-alun kidul dengan mata tertutup. Meskipun terlihat mudah, ternyata tidak semua orang bisa melakukannya. Padahal jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya cukup lebar lho!

Menurut mitos, hanya orang yang lurus hatinya (bersih), yang akan sanggup melewati tantangan ini. Jika hati kamu kotor, kamu akan berjalan ke samping kanan atau samping kiri pohon beringin, atau bahkan akan hanya berjalan-jalan nggak karuan, walaupun kamu sudah merasa berjalan dengan arah yang lurus.

Selain itu, mitos lainnya menyebutkan, jika kamu sudah mampu memenuhi tantangan tersebut, maka seluruh matan atau permintaan kamu akan terkabul. Well, menarik bukan? Terlepas benar atau tidaknya mitos tersebut, yang jelas masangin merupakan kegiatan yang sangat seru untuk dilakukan bersama teman ataupun keluarga.

Sejarah Singkat

Masangin berasal dari tradisi topo bisu, merupakan sebuah ritual yang dilakukan oleh para prajurit keraton dengan cara berjalan berkeliling benteng, tanpa berbicara. Biasanya ritual ini diadakan pada malam 1 Suro, atau ketika ulang tahun berdirinya Keraton Yogjakarta.

Setelah selesai, ritual selanjutnya adalah berjalan masuk di antara dua pohon beringin yang terletak di Alun-Alun Kidul. Kabarnya, ritual ini dilakukan untuk ngalap berkah, sekaligus sebagai simbol permohonan pertahanan dan keamanan keraton dari serangan musuh-musuh dari luar.

Menurut kepercayaan, di antara kedua pohon tersebut ada rajah (semacam jimat tolak bala untuk musuh kerajaan). Kalau sampai bala tentara berhasil berjalan di antara kedua pohon tersebut, maka kekuatan pasukan musuh bisa hilang. Dengan kata lain, di antara pohon beringin tersebut terdapat jimat yang berfungsi sebagai invisible fort. Keren kan?

Walaupun begitu, sekarang ini pemaknaan menyeberangi beringin di alun-alun tersebut kini sudah mulai bergeser. Ritual budaya yang awalnya sangat sakral dan dimaknai sepenuh hati, kini hanya dijadikan sebagai alat permainan untung-untungan belaka.

Kini, setiap sore hingga malam hari, Alun-Alun Kidul akan penuh sesak dengan masyarakat atau wisatawan yang ingin mencoba peruntungan untuk melewati lorong antara dua beringin tersebut. Sebagai catatan, Masangin sendiri merupakan akronim dari Masuk Dua Beringin.

Write a Reply or Comment