26 °C
haze
12
Mon
Jakarta

TPH CORNER

18 Feb 2016
By admintph

Wisata Religi dan Mistis Di Trunyan

Wisata Religi dan Mistis Di Trunyan

Bosen nggak sih fren pergi liburan ke tempat yang itu-itu saja? Kali ini kita punya nih rekomendasi tempat wisata yang nggak cuma bisa fren lupa dengan kepenatan tapi juga ada nilai moral di baliknya. Pernah dengan tentang Trunyan nggak fren? Desa Trunyan adalah salah satu desa yang ada di Bali dan disebut-sebut sebagai desanya orang asli Bali. Letaknya ada di kaki bukit pegunungan Batur fren, jadi lokasinya adem banget dan jauh dari polusi. Untuk bisa sampai ke Desa Trunyan, fren bisa naik perahu motor yang berangkat dari pelabuhan Kintamani di mana fren akan menyeberangi Danau Batur selama kurang lebih 45 menit.

Yang paling menarik dari Desa Trunyan ini fren, yaitu begitu kamu masuk ke pintu gerbang desa kamu akan langsung disuguhi dengan sebuah kuburan tua dan pohon besar berusia ribuan tahun. Ya, karena penduduk Trunyan punya cara sendiri untuk memperlakukan keluarga atau kerabat yang sudah meninggal. Kalau biasanya masyarakat Bali dikenal dengan upacara ngaben atau membakar jenazah, kalau di Trunyan ini, jenazah hanya diletakkan begitu saja di atas permukaan tanah. Jenazah lalu ditutup dengan kurungan bambu ancak, tapi fren masih bisa lihat kok jenazah di dalamnya dari celah-celah kurungan ini. Tujuannya sama seperti ngaben yaitu untuk mensucikan roh dan agar nanti bisa reinkarnasi di kehidupan mendatang.

Tadi sudah disebutkan kan fren, saat memasuki pintu gerbang Desa Trunyan ini fren akan disambut oleh sebuah pohon yang besar dan tua. Konon katanya pohon ini sudah berumur ribuan tahun dan bisa menyerap bau busuk dari jenazah. Makanya meski diletakkan begitu saja, jenazah nggak mengeluarkan bau yang busuk. Di bawah pohon yang disebut Taru Menyan inilah jenazah-jenazah tersebut diletakkan.

Nggak sembarangan jenazah bisa diletakkan di bawah pohon Taru Menyan lho fren, ada syaratnya. Syaratnya adalah jenazah yang diletakkan di bawah pohon nggak boleh lebih dari 11 jenazah, jenazah meninggal secara wajar misalnya sakit atau sudah tua, dan sudah pernah menikah. Sementara bagi mereka yang meninggal secara nggak wajar dan belum pernah menikah ada tempatnya sendiri fren. Nantinya kalau jenazah yang diletkkan di bawah Taru Menyang sudah menjadi tengkorak dan tinggal tulang belulang, jenazah tersebut dipindahkan untuk memberikan tempat bagi jenazah-jenazah yang lain.

Menurut cerita warga Desa Trunyan, asal mula pohon Taru Menyan jadi tempat untuk meletakkan jenazah adalah dahulu kala warga Trunyan nggak betah dengan bau harum menyengat yang berasal dari pohon Taru Menyan. Lalu tetua desa menyarankan untuk meletakkan jenazah di bawah pohon sebagai penetralisir aroma yang ternyata bisa berhasil dan masih dipraktekan sampai sekarang. Gimana fren? Datang ke Desa Trunyan bisa membuatmu lebih mengenal kehidupan masyarakat Hindu yang masih tradisional dengan bumbu-bumbu mistis lho, pasti seru.

Write a Reply or Comment