29 °C
few clouds
16
Fri
Jakarta

TPH CORNER

10 Mar 2016
By admintph

Fenomena Gerhana Matahari

Fenomena Gerhana Matahari

Fren, tanggal 9 Maret 2016 kemarin, Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan gerhana matahari total. Bahkan gerhana matahari total atau GMT tahun ini terasa sangat spesial karena selain ini merupakan momen yang langka, ribuan wisatawan pun datang ke Indonesia hanya untuk melihatnya.

Kondisi ini berbeda dengan 33 tahun silam, dimana ketika gerhana matahari total melintasi wilayah Sulawesi, Jawa, dan Papua di tahun 1983 silam, pemerintah Suharto dengan tegas melarang masyarakat untuk melihat gerhana secara langsung karena dianggap bisa menimbulkan kebutaan.

Bahkan hal ini dibenarkan oleh Bambang Hidayat, Guru besar Ilmu Astronomi ITB yang ketika itu menjadi wakil ketua Panitia Nasional Gerhana Matahari. Dirinya masih ingat bagaimana jalanan yang sepi ketika dia pergi menuju tempat pemantauan gerhana di Jawa Tengah.

Lebih lanjut lagi, Bambang mengatakan jika ketika itu, pemerintah  tidak memberikan edukasi yang mencukupi kepada masyarakat agar mereka bisa menyaksikan fenomena alam ini dengan aman tanpa risiko kebutaan, seperti yang selama ini mereka percayai.

Berawal dari legenda

Suda sejak lama, gerhana matahari selalu identik dengan mitos yang terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi. Di daerah Jawa dan Bali, masyarakat sana percaya jika gerhana matahari disebabkan karena Batara Kala menelan Matahari dan Bulan, kemudian memuntahkannya kembali.

Sedangkan dalam versi modern, Thomas Djamaluddin, selaku Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, menyatakan jika gerhana matahari total menimbulkan mitos akan membuat buta siapapun yang melihatnya secara langsung.

Walaupun begitu, Thomas menyatakan jika cahaya matahari ketika gerhana dan cahaya matahari normal, sebenarnya sama bahayanya, dan memang dapat meningkatkan risiko kebutaan. Maka dari itu, sangat disarankan untuk melihatnya secara sepintas.

Selain itu, kalau kamu ingin melihatnya lebih lama, sangat disarankan untuk menggunakan kacamata matahari khusus yang mampu meredupkan cahaya matahari sampai 100.000 kali. Alternatifnya, kamu bisa menggunakan kacamata hitam, kaca dengan jelaga atau bisa juga menggunakan dalaman disket.

Terlepas dari semua itu, Thomas mengatakan jika gerhana matahari total baru dapat melintasi daerah yang sama dalam kurun waktu sekitar 300 tahun. Hanya saja, untuk kasus 9 Maret 2016 kemarin, itu merupakan fenomena yang langka dan menjadi pengecualian.

So, bagaimana dengan kamu Fren? Apakah kamu menjadi salah satu orang yang menikmati gerhana matahari total kemarin? Sharing yuk pengalamannya di sini!

Write a Reply or Comment