29 °C
few clouds
16
Fri
Jakarta

TPH CORNER

27 Oct 2015
By admintph

Kenapa Batik Selalu Identik dengan Kuno?

Kenapa Batik Selalu Identik dengan Kuno?

Belakangan ini, Tren menggunakan batik kembali bergairah. Tidak hanya sebagai pakaian resmi saja, tapi kini banyak anak muda yang kerap menggunakan batik sebagai pakaian mereka untuk nongkrong. Jelas ini kabar baik, berarti batik sekarang ini sudah tidak identik dengan undangan acara resmi atau orang tua.

Lantas, kenapa sih baik bisa selalu identik dengan kuno?

Kalau mengenai alasan, yang pasti kita akan sulit mengetahui apa sebenarnya yang menjadi alasan batik kerap di identikkan dengan kuno. Hanya saja, batik memang sudah ada sejak zaman dulu, bahkan sejak zaman Indonesia masih terpecah-pecah berupa kerajaan-kerajaan kecil.

Dalam perkembangannya, batik memang tidak pernah bisa dipisahkan dari upacara pernikahan. Hal ini terbukti dengan dominasi keterlibatan batik dalam berbagai upacara kenegaraan atau upacara bersifat kerajaan, seperti pernikahan adat ala Yogyakarta atau Surakarta.

Contohnya saja penggunaan kain panjang dengan gaya kembaran. Ini merupakan tata pemakaian kain panjang yang bercorak sama atau serupa. Makna corak yang sama ini adalah, bersatunya dua keluarga yang berbeda oleh pernikahan. Selain itu, pemakaian kain dodot gaya ngumbar konco yang memperlihatkan jika yang punya hajatan merupakan keluarga ningrat.

Selain itu, contoh launnya adalah pemakaian kemben gaya semekan sindur khas Yogyakarta. Pemakaian atribut resmi ini diberlakukan bagi calon pengantin wanita ketika malam midodareni. Selain contoh-contoh tersebut, masih banyak contoh lainnya tentang penggunaan batik dalam acara resmi kerajaan atau kenegaraan.

Di masa sekarang, pemakaian kain batik ini tidak hanya sekedar pelengkap upacara saja, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah. Dengan menggunakan baju batik, berarti kita ikut berbahagia dengan upacara pernikahan ini.

Sayang, karena tradisi inilah kita kemudian mengenal batik sebagai baju resmi yang biasa digunakan untuk menghadiri undangan pernikahan. Bahkan rasanya kurang lengkap kalau kita pergi menghadiri undangan pernikahan, tanpa menggunakan batik.

Yang lebih parahnya lagi, kebiasaan ini pun telah membuat batik sangat identik dengan kolot, kuno dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Walaupun seluruh tuduhan tidak mendasar tersebut, kini sudah dibuktikan salah dengan lahirnya inovasi menggunakan batik dari para desainer ternama.

So, apakah kamu masih menganggap batik itu kuno?

Write a Reply or Comment